Selasa, 31 Desember 2013

Penelitian komposisi media dan pemupukan N

Respon Pertumbuhan Bibit Tebu (Saccharum officinarum L.) terhadap Kajian Media dan Pemupukan Nitrogen pada Sistem Single Bud
(Response of Sugarcane Seedling Growth (Saccharum officinarum L.) to the Study of Nitrogen Media and Fertilization on Single Bud System)

Argaranu Bayu Aji 


Abstrak
Penelitian bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan bibit tebu terhadap komposisi media dan dosis pupuk nitrogen (N) pasca transplanting dari persemaian I ke persemaian II. Penelitian bertempat di lahan percobaan UPT. Agrotechopark Universitas Jember, mulai Maret sampai dengan Juni 2013 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Data rata-rata setiap perlakuan yang diperoleh dibandingkan dengan menggunakan SEM (Standart Error of the Mean). Hasil penelitian menunjukkan komposisi media tanam berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit tebu. Komposisi media tanam yang menghasilkan pertumbuhan bibit terbaik ialah campuran media tanah dengan kompos 1:1. Perlakuan dosis N memberikan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit tebu, tetapi peningkatan dosis N hingga taraf 13,15 g/10 ℓ/m2 masih menunjukkan pertumbuhan yang linier.

Kata Kunci : Bibit tebu, Media tanam, dan Pupuk nitrogen (N)

Abstract
This research was intended to determine the response of sugarcane seedling growth to media composition and nitrogen (N) fertilizer dosage after transplanting from the seedling bedding I to seedling bedding II. The research was conducted at experimental land of UPT. Agrotechopark, University of Jember, from March to June 2013 by using a randomized block design (RBD). The average obtained data of each treatment were compared using SEM (Standard Error of the Mean). The research results showed that media composition provided a significant effect on the sugarcane seedling growth. The composition of media that produced the best seedling growth was mixture of soil and compost 1:1. N dose treatment gave a significant effected on sugarcane seedling growth, but the increase of N dose up to the level of 13.15 g/10 ℓ/m2 still showed linear growth.

Keywords : Sugarcane seedling, Media composition and nitrogen (N) fertilizer



PENDAHULUAN
Tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan tanaman yang memiliki kadar gula tinggi. Produksi tebu yang belum optimal berdampak terhadap tidak terpenuhinya kebutuhan gula dalam negeri. Produksi gula pada tahun 2012 mencapai 2,7 juta ton sedangkan kebutuhan gula nasional mencapai 3 juta ton [1]. Rendahnya Produksi tebu salah satunya dipengaruhi oleh produksi bibit yang ditanam langsung ke lahan (bagal, rayungan, lonjoran, dll) masih kurang efesien. Pembibitan dengan sistem tersebut lebih boros bahan tanam dan lahan, daya tumbuh bibit serta keserempakan tumbuh bibit tebu di lapang yang relatif rendah.
Penerapan pembibitan tebu sistem single bud perlu dipertimbangkan dalam upaya menghasilkan bibit yang memiliki daya tumbuh tinggi. Permasalahannya pada  sistem single bud masih rawan  terjadi stres (permasalahan adaptasi) ketika dilakukan pemindahan dari persemaian I ke persemaian II [2]. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut ialah dengan memanipulasi lingkungan tumbuhnya yakni dengan memodifikasi komposisi media dan dosis N yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari respon pertumbuhan bibit tebu sistem single bud terhadap komposisi media tanam dan pupuk N.

METODE PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan di UPT. Agrotechnopark Universitas Jember yang dilaksanakan mulai Maret sampai dengan Juni 2013. Bahan yang digunakan yaitu mata tunas varietas PS 862, pot tray, bedengan, pasir, sebuk gergaji, arang sekam, tanah ayakan, disinfektan, kompos, air, para-para, dan pupuk ZA. Rancangan penelitian yang digunakan ialah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 kali ulangan. Perlakuan komposisi media tanam terdiri atas tanah : kompos 1:1 (A0); tanah : kompos : pasir 1:1:1 (A1), tanah : kompos : arang sekam 1:1:1 (A2); dan tanah : kompos : serbuk gergaji 1:1:1 (A3). Perlakuan dosis N terdiri atas      B0 = 0 g N/10 ℓ/m2; B1 = 2,63 g N/10 ℓ/m2; B2 = 5,26 g N/10 ℓ/m2; B3 = 7,89 g N/10 ℓ/m2; B4 = 10,52 g N/10 ℓ/m2; B5 = 13,15 g N/10 ℓ/m2. Data yang diperoleh diuji menggunakan metode SEM (Standart Erorr of the Mean).


HASIL DAN PEMBAHASAN
Daun merupakan organ yang berperan penting dalam proses fotosintesis yakni sebagai organ penyerap bahan baku fotosintesis (CO2) melalui stomata daun. Fotosintesis merupakan proses pembentukan fotosintat (cadangan makanan) dengan bahan baku CO2 dan H2O, sintesa fotosintat dapat berlangsung dengan bantuan cahaya matahari sebagai sumber energi.  Spesies tanaman budidaya yang efesien cenderung menginfestasikan sebagian besar awal pertumbuhannya dalam bentuk penambahan luas daun sehingga pemanfaatan sinar matahari lebih optimum [3].


Berdasarkan Gambar 1 tampak bahwa luas daun total bibit tebu cenderung meningkat seiring dengan penambahan dosis N. Peranan nitrogen bagi pertumbuhan tanaman ialah mendorong organ-organ yang berkaitan dengan fotosintesis yaitu daun [4]. Tanaman yang memiliki helaian daun lebih luas dengan kandungan klorofil yang lebih tinggi mampu menghasilkan fotosintat dalam jumlah yang cukup untuk menopang pertumbuhan vegetatif [5]. Bibit yang memiliki fotosintat dalam jumlah mencukupi lebih berpotensi untuk tumbuh dan berkembang dengan baik, tetapi jika suplai N berlebihan justru berpotensi menghambat pertumbuhan tanaman. Suplai N berlebihan menyebabkan daun menjadi lebih mudah terkulai karena pembentukan jaringan penguat yakni lignin dan selulosa terganggu [5].  Kondisi  daun  yang demikian sangat berpotensi menurunkan efisiensi serapan cahaya sehingga kemampuan daun untuk memproduksi cadangan makanan kemungkinan besar juga menurun.
Selain pemberian pupuk N dalam jumlah yang mencukupi, bibit yang berdaun luas juga ditunjang dari media tanam yang digunakan. Media tanam yang menghasilkan bibit dengan luas daun total paling tinggi ialah media A0. Kandungan bahan organik pada media A0 diduga lebih tinggi dibandingkan media lainnya karena porsi kompos pada media tersebut lebih tinggi. Bahan organik mengandung unsur hara lengkap (N, P, K, Ca, dan Mg), pH berkisar 5,5-8,5, struktur ringan, memiliki kapasitas pegang air dan drainase yang baik [6]. Bahan organik juga merupakan susbstrat alami untuk mikroorganisme saprofitik dan secara tidak langsung memberikan nutrisi melalui kegiatan mikroorganisme tanah [8]. Sementara bibit tebu yang ditumbuhkan pada media A3 memiliki daun paling sempit jika dibandingkan dengan perlakuan media lainnya  (Gambar 1).
Proses dekomposisi serbuk gergaji pada media A3 diduga belum sempurna sehingga hara yang terkandung didalamnya belum dapat dimanfaatkan dengan baik. Campuran serbuk gergaji yang terdapat pada media A3 berasal dari sisa kayu sengon yang tergolong masih mentah. Serbuk gergaji kayu sengon mengandung lignin cukup tinggi yaitu 26,8% [7]. Kandungan lignin yang tinggi pada serbuk gergaji mengakibatkan proses mineralisasi berlangsung lambat karena lignin bersifat resisten terhadap serangan mikroba sehingga hara tersedia sedikit [8]. Hara yang ada pada media tidak dapat terserap secara maksimal karena adanya kompetisi antara tanaman dan mikroba dalam penggunaan hara N. Hasil penelitian menunjukkan kondisi daun sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit secara keseluruhan yang tercermin dalam berat kering total (Gambar 1 dan 4). Evaluasi kualitas bibit tebu dalam menghasilkan biomssa  total (gram) dalam selang waktu tertentu dapat dinilai dari laju pertumbuhan tanaman. 

        
Berdasarkan Gambar 2 diketahui bahwa bahwa laju pertumbuhan bibit tebu cenderung linier dengan dosis N yang diberikan, pemberian pupuk N meningkatkan laju pertumbuhan secara nyata. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa penggunaan media yang baik belum belum cukup untuk menghasilkan laju pertumbuhan bibit secara maksimum. Bibit yang sama sekali tidak diberikan pupuk memberikan hasil laju pertumbuhan paling rendah. Rendahnya hasil dikarenakan tanaman tidak mendapat tambahan unsur hara dari pemupukan, sehingga tanaman hanya memanfaatkan unsur hara yang berada di sekitar tanaman [9]. Kekurangan unsur hara pada fase vegetatif menyebabkan organ tanaman kurang berkembang, sehingga berdampak langsung terhadap laju pertumbuhan tanaman. Bibit yang tidak diberi atau diberikan pupuk N dengan dosis rendah berdampak terhadap penurunan laju pertumbuhan bibit (Gambar 2).
 Berdasarkan Gambar 2 media A0 menunjukkan laju pertumbuhan bibit tertinggi. Peningkatan luas daun cenderung berkorelasi positif dengan laju pertumbuhan bibit tebu (Gambar 1 dan 2). Bibit yang berdaun lebih luas mempunyai kesempatan lebih besar untuk menyerap cahaya matahari dan CO2, sehingga produksi karbohidrat (cadangan makanan) meningkat. Hasil fotosisntesis ditranslokasikan dari pucuk (organ daun) sebagai sumber ke seluruh organ bibit tebu yang meliputi daun, batang, dan akar. Proporsi pembagian fotosintat antara tinggi dan diameter bibit dapat menggambarkan kekokohan bibit tebu.


Prediksi performa bibit dilapang salah satunya dapat dievaluasi melalui nisbah tinggi bibit dengan diameter (kekokohan). Bibit dengan nilai kekokohan yang relatif rendah cenderung memiliki daya tumbuh yang tinggi ketika dipindahkan ke lapang karena proporsi antara tinggi bibit dan diameternya mengarah pada keseimbangan atau proporsional. Kekokohan bibit tergolong ideal ketika nilai kekokohan berada dalam rentang 6,3-10,8 [10]. Berdasarkan Gambar 3 kekokohan bibit tebu berada pada rentang 8-12 sehingga sebagaian besar kekokohan bibit tebu dapat dikategorikan ideal. Hasil tersebut menunjukkan proporsi antara tinggi bibit dan diameter tergolong proporsional sehingga bibit tidak mudah rebah maupun patah ketika mendapat terpaan angin. Ketahanan bibit tebu terhadap terpaan angin selain ditunjang oleh batang yang kuat (berdiameter cukup besar) juga dibutuhkan perakaran bibit yang baik untuk menopang seluruh organ tanaman. Diameter bibit berkaitan erat dengan berat kering akar [11]. Bibit yang berdiameter besar kemungkinan juga memiliki berat kering akar yang lebih tinggi sehingga asupan air dan hara sangat di mungkinkan dapat terpenuhi dengan baik.
Performa pertumbuhan bibit secara keseluruhan dapat dinilai melalui biomassa yang dihasilkan (berat kering total). Biomassa merupakan integrasi dari hampir hampir semua peristiwa yang dialami tanaman sebelumnya sehingga lebih representatif untuk menunjukkan penampilan tanaman secara keseluruhan [4]. Peningkatan taraf dosis N cenderung  meningkatkan berat kering total (BKT) secara nyata, BKT merupakan akumulasi pertumbuhan yang dihasilkan selama pertumbuhan bibit tebu berlangsung.



Berdasarkan data yang diperoleh luas daun total  berkolerasi positif terhadap pertumbuhan bibit secara keseluruhan yang tercermin dari berat kering total bibit (Gambar 1 dan 4). Bibit yang berdaun lebih luas berpotensi untuk menghasilkan cadangan makanan (karbohidrat) lebih besar sehingga pertumbuhan dan perkembangan bibit lebih baik. Berdasarkan Gambar 4 perlakuan media tanam yang paling memberikan respon positif ialah A0, media tersebut menghasilkan berat kering total tertinggi. Hasil tersebut diperoleh karena diduga kandungan bahan organik yang ada pada media A0 paling tinggi, peranan bahan organik yang kaya akan hara sangat penting bagi pertumbuhan bibit. Selain itu bahan organik juga dapat membantu dalam konservasi hara tanah dengan mencegah erosi dan pencucian hara sehingga efisiensi serapan lebih tinggi [8].
Kesiapan bibit tebu untuk dapat dipindahkan ke lapang dapat dinilai melalui indeks mutu bibit. Penilaian indeks mutu bibit didasarkan pada berat kering total (BKT) dibagi rasio pucuk akar (RPA) ditambah dengan kekokohan bibit. Bibit yang memiliki nilai IMB > 0,09 dapat beradaptasi dengan baik ketika disalurkan ke lapang [12]. Nilai IMB yang dihasilkan dari berbagai media tergolong layak untuk disalurkan ke lapang atas karena nilai IMB yang diperoleh > 0,20 (Gambar 5) atau jauh melebihi standart minimumnya. Bibit dengan nilai IMB terbaik dihasilkan dari bibit yang disemaikan pada media A0. Bibit bermutu tinggi dapat dihasilkan melalui penggunaan medium yang cocok, pemberian pupuk sesuai kebutuhan, dan penyiraman yang cukup [13]. Hasil penelitian pengaruh penggunaan media terhadap pertumbuhan bibit mengarah pada kecocokan media A0 untuk digunakan sebagai media semai, meskipun demikian bibit pada media A0 pertumbuhannya lebih baik jika ditambahkan pupuk. 


Hasil penelitian menunjukkan bibit tebu yang tidak diberikan pupuk atau diberikan pupuk dengan dosis yang lebih rendah menghasilkan bibit dengan indeks lebih rendah (Gambar 5). Perlakuan 7,89 hingga 13,15 g N cenderung  meningkatkan  indeks mutu  bibit  secara nyata, meskipun demikian semua perlakuan dosis pemupukan masih menunjukkan kelayakan bibit untuk dipindahkan ke lahan. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh indeks mutu bibit tebu pada umur 2,5 bulan > 0,20 sehingga dapat dikategorikan layak untuk dipindahkan ke lapang. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan indeks mutu bibit pada dua spesies tanaman mediteranean yaitu Pinus halepensis dan Pistacia lentiscus cenderung linier dengan kemampuan hidup bibit dilapang [14]. Evaluasi kualitas fisik (IMB) bibit meranti pada umur 11, 12, dan 14 bulan setelah tanam (BSS) berturut-turut 0,28; 0,26; dan 0,34, hasil tersebut menunjukkan ketiga tingkatan umur sudah layak ditanam, oleh karena itu agar efsiensi pekerjaan dapat dicapai sebaiknya bibit pada umur 11 BSS sudah ditanam dilahan [12]. Pemindahan bibit tebu dengan sistem pembibitan Bud Chip atau single bud melalui program suistainable sugarcane initiative (SSI) di India berkisar antara 25 hingga 35 hari setelah tanam [15]. Berdasarkan hasil tersebut diduga kuat bibit tebu sudah layak dipindahkan ke lapang sebelum berumur 2,5 bulan, oleh karena itu pengujian lanjut terkait umur pindah terhadap daya tumbuh bibit dilapang perlu dilakukan supaya diketahui korelasinya.


KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan komposisi media campuran tanah dan kompos dengan perbandingan 1:1 memberikan hasil pertumbuhan bibit tebu terbaik. Pemupukan N cenderung meningkatkan pertumbuhan bibit tebu, tetapi peningkatan dosis pemupukan N sampai dengan 13,5 g/10ℓ/m2 masih menunjukkan pertumbuhan yang linier.

SARAN
 Perlu dilakukan penelitian lanjutan berkaitan dengan hubungan antara kualitas bibit tebu SBN siap salur terhadap daya tumbuhnya di lapang supaya diketahui presentase keberhasilannya.

UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada UPT. Agrotechnopark Universitas Jember, atas izin dan fasilitas yang diberikan selama penelitian berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA
[1]   BUMN 2012. 2012. Produksi Gula Nasional Naik 30 Persen. http://www.bumn.go.id/ptpn10/publikasi /berita/2012-produksi-gula-nasional-naik-30-persen/. Diakses 11 Februari 2013
[2]   PTPN XI. 2011. Buku Panduan Teknis Pelaksanaan Pembibitan “Single Bud”. PT. Perkebunan Nusantara XI Pabrik Gula Semboro, Jember
[3]  Gardner, F.P., R.B. Pearce, dan R.L. Mitcheli. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Terjemahan Herawati Susilo. Universitas Indonesia Press, Jakarta
[4]  Sitompul,S.M., dan B. Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gajah Mada University Press, Yogyakarta
[5]  Wijaya, A. K., 2008. Nutrisi Tanaman Sebagai Penentu Kualitas Hasil dan Resistensi Alami Tanaman. Prestasi Pustaka, Jakarta
[6]  Sumiasri, N., dan N. Setyowati. 2006. Pengaruh Beberapa Media pada Pertumbuhan Bibit Eboni (Diospyros celebica Bakh) Melalui Perbanyakan Biji. Jurnal Biodiversitas. Volume 7 (3) : 260-263
[7]   Ginting, A.R., N. Herliana, dan S.Y. Tyasmoro. 2013. Studi Pertumbuhan dan Produksi Jamur Tiram Putih (Pleorotus ostreatus) pada Media Tumbuh Gergaji Kayu Sengon dan Bagas Tebu. Jurnal Produksi Tanaman. Volume 1 (2) : 17-24
[8]  Rao, N.S.S. 1994. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. Terjemahan Herawati Susilo. Universitas Indonesia, Jakarta
[9]  Kalyubi, M. 2011. Pengaruh Pupuk Hijau Calopogonium mucunoides dan Fosfor terhadap Sifat Agronomis dan Komponen Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays SACCHARATA STURT). Skripsi. Universitas Brawijaya, Malang
[10] Adman, B. 2011. Pertumbuhan Tiga Kelas Mutu Bibit Meranti Merah pada Tiga IUPHHK di Kalimantan. Jurnal Dipterokarpa. Volume 5 (2) : 47-60
[11] Binotto, A.F., A.D. Lucio, and S.J. Lopes. 2010. Correlations Betwen Growth Variable And The Dickson Quality Index In Forest Seedling. Lavras Journal. Volume 16 (4) : 457-474
[12Junaedi, A., A. Hidayat, dan D. Frianto. Kualitas Fisik Bibit Meranti Tembaga (Shorera leprosula Miq.) Asal Stek Pucuk pada Tiga Tingkatan Umur. Jurnal Penelitian Hutan Konservasi Alam. Volume 7 (3) : 281-288
[13Yuliarti, N., Y. Heryati, dan T. Rostiwati. 2009. Pengaruh Media Tanam dan Frekuensi Pemupukan Kompos terhadap Pertumbuhan dan Mutu Bibit Damar (Agathis loranthifolia Salisb.). Jurnal Agronomi. Volume 9 (2) : 59-66
[14Tsakaladimi, M., P. Ganatas, and D.J. Jacobs. 2012. Prediction of Planted Seedling Survival of Live Mediteranean Species Based on Initial Seedling Morphology. University of Aristoteles Thessaloniki Greece, Tehssaloniki
[15Guija, B., G.V. Loganandhan, M. Agarwal, and S. Dalai 2009. Suistainable Sugarcane Initiative Improving Sugarcane Cultivation in India. ICRISAT-WWF Project, Andhra Pradesh

Sabtu, 02 Februari 2013

Sistem Pembibitan Tebu Single Bud Nurserry


Sistem Pembibitan Tebu Single Bud Nurserry

Peningkatan produksi tebu penting untuk dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi bahkan menghentikan ketergantungan impor gula. Produksi tebu dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya jenis tanah, varietas, teknik budidaya, modal, infrastruktur, pengolahan tanah, pemeliharaan, lingkungan, dan bahan tanam atau bibit. Bahan tanam merupakan salah satu faktor produksi yang esensial, mutu bahan tanam menentukan produksi tebu secara keseluruhan disamping faktor lainnya.
Sistem pengadaan bahan tanam yang selama ini diterapkan dengan bagal, rayungan, dan lonjoran masih kurang efesien. Sistem tersebut diatas memiliki waktu pembibitan lama, kesehatan dan kemurnian bibit kurang terjamin, membutuhkan lahan yang luas, kebutuhan bahan tanam besar, penanaman harus dilakukan pada awal atau akhir musim hujan, dan pertumbuhan bibit kurang serempak. Solusi yang dapat dipertimbangkan untuk mengatasi permasalahan tersebut ialah dengan menerapkan satu inovasi baru dalam pembibitan tebu yang diadopsi dari Kolumbia, pembibitan tersebut dikenal dengan sistem pembibitan tebu satu mata tunas (single bud nurserry). Proses pembibitan tebu dengan sistem single bud nurserry secara umum terdapat dua tahapan yaitu persemaian I (pendederan mata tunas pada bedengan) selama 10-14 hari dan persemaian II (penanaman bibit ke pot tray) 2,5 bulan.
Bibit yang dihasilkan dari persemaian II selanjutnya siap disalurkan atau ditanam ke lahan. Hal yang perlu diingat pada saat bibit berada di pot tray ialah peletakannya tidak boleh di atas tanah secara langsung supaya akar bibit tidak bersentuhan dengan tanah yang berada di luar pot tray. Prosedur tersebut diterapkan supaya bibit benar-benar hidup dari media tanam yang ada di dalam pot tray. Perlakuan tersebut sebagai bentuk dari pengadaptasian bibit ke lahan supaya daya adaptasi bibit di lahan yang sesungguhnya baik.
Keuntungan pembibitan single bud nurrsery antara lain (1) areal yang dibutuhkan lebih sedikit; (2) umur bibit lebih pendek yaitu kurang dari 3 bulan sudah siap tanam; (3) setiap saat bibit akan tersedia sehingga jenjang pembibitan lebih efektif; (4) kualitas bibit lebih terjamin dan presentase serta kepastian hidup lebih tinggi. Selain kelebihan-kelebihan tersebut pada pembibitan ini masih terdapat beberapa kelemahan yang perlu diperhatikan yaitu (1) membutuhkan tenaga kerja terampil; (2) belum diketahui oleh sebagian besar masyarakat luas atau khalayak; (3) adaptasi penanaman (transplantting) dan; (4) sistem pemeliharaan masih membutuhkan kajian lebih lanjut (PTPN XI, 2011).

Kegiatan pemindahan bibit hasil dederan ke pot tray














Pelaksanaan Pembibitan
A. Persemaian Tahap I
a. Persiapan media tanam
Menyiapkan media tanam untuk bedengan yaitu campuran kompos dan tanah 1 : 1 kemudian diayak.
b. Pembuatan bedengan
Membuat bedengan yang terbuat dari bak kayu empat persegi panjang de-ngan dimensi 200 cm x 120 cm x 15 cm, yang disi dengan tanah + kompos 1 : 1, tanah dan kompos di campur menjadi satu dengan menggunakan cangkul.
c. Pengambilan bahan tanam
Bahan tanam yang digunakan ialah berupa batang, batang tebu tebu dipotong menggunakan gergaji atau bisa juga menggunakan peralatan mekanis, panjang potongan + 2,5 cm pada saat pemotongan mata tunas tidak boleh rusak karena merupakan titik tumbuh tebu. Bahan tanam diambil dari kebun bibit, tebu yang diambil berumur + 6 bulan, pada umur tersebut, mata-mata masih baik dan dapat tumbuh dengan optimal. Batang yang dijadikan sebagai bahan tanam ialah bagian tengah, cara pembagiannya ialah panjang batang dibagi tiga supaya diperoleh bahan tanam yang seragam.
d. Perendaman bibit tebu dan sortasi
Sebelum di kecambahkan bibit tebu di rendam pada air hangat (Hot water Treatment) air hangat juga ditambahkan disinfektan dengan merek dagang wipol yang berbahan aktif Pine Oil 2,5% dengan konsentrasi 2 ml per liter air. Tujuan perendaman di air hangat ialah untuk membebaskan bahan tanam (mata tunas) yang akan digunakan bibit dari patogen (jamur, bakteri, atau virus). Perendaman dilakukan pada suhu 510C selama 1 jam. Bibit yang rusak dilakukan sortasi untuk mencegah tertularnya penyakit, kegiatan ini dilakukan sebelum perendaman.
e. Pendederan bahan tanam di bedengan
Mata tunas yang sudah direndam air hangat dan dilakukan sortasi selanjut-nya di deder (disemaikan) pada bedengan yang telah disiapkan. Mata tunas dise-maikan secara berhimpitan dan lurus pada permukaan bedengan dengan kedala-man ± 2 cm. Posisi mata tunas harus menghadap ke atas dan tidak boleh tertimbun oleh tanah, lama pendederan bahan tanam ialah selama 10-14 hari (siap dipindahkan ke pot tray).

B. Persemaian Tahap II
a. Persiapan Media Tanam
Setiap  lubang  tanam pot tray  diisi  media tanam (tanah, pasir, kompos, dan serbuk gergaji) hingga ½ bagian, sesuai dengan perlakuan.
b. Penanaman
Hasil dari pendederan (persemaian tahap I) ditanam pada pot tray, pot tray diletakkan diatas para-para supaya akar bibit tebu tidak mempunyai kesempatan memanfaatkan media tumbuh yang berada diluar pot tray khususnya tanah. Pembesaran bibit di pot tray selama 2,5 bulan sehingga pelaksanaan penelitian secara keseluruhan ialah 3 bulan, dengan rincian 2 minggu di persemaian I (dederan), dan 10 minggu di persemaian II (pot tray).

C. Pemeliharaan
a. Penyiraman
Penyiraman bibit dilakukan sehari dua kali yaitu pada pagi dan sore hari secukupnya / sesuai kapasitas lapang.

b.  Pemupukan
Pemupukan dilakukan 5 hari setelah di pindah di pot tray, pupuk yang digu-nakan ialah pupuk ZA sebanyak 25 gram. Pupuk yang sama diberikan dalam dosis sesuai perlakuan yang diaplikasikan 30 hari setelah pemberian pupuk pertama. Pupuk dasar maupun perlakuan dilarutkan kedalam 10 liter air untuk diaplikasikan pada bibit tebu di pot tray dengan luasan 1 m2. Setiap 1 m2 terdapat 6 unit pot tray yang masing-masing berisi 32 lubang tanam atau 192 lubang tanam untuk 6 pot tray, sehingga tiap lubang tanam diaplikasikan larutan pupuk N sebesar 52 ml.
c. Pengendalian organisme penggangu tumbuhan (OPT)
Pengendalian OPT diutamakan dengan cara preventif misalnya dengan mencabut gulma, menjaga kebersihan media, dan mencabut bibit yang terserang OPT. Untuk itu juga dilakukan monitoring secara berkala sesuai prinsip PHT (Pengendalian hama dan sumberdaya terpadu). 
Unduh file skripsi di :
 http://www.4shared.com/office/ByBcdL8qba/Respon_Pertumbuhan_Bibit_Tebu_.html




Selasa, 25 Desember 2012

UJI DAYA SIMPAN BENIH DENGAN METODE RAPID ANGING METHOD (RAM)



UJI DAYA SIMPAN BENIH DENGAN METODE 
RAPID ANGING METHOD (RAM)




BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Penyimpanan benih penting untuk dilakukan dalam rangka menghasilkan benih yang berkualitas ketika proses pengriman selanjutnya sampai ketangan konsumen. Benih yang disimpan merupakan benih yang telah masak fisiologis, benih yang masuk pada masa fisiologis daya kecambahnya mencapai maksimum dimana bobot kering pada saat itu telah mencapai pada titik optimumnya. Pada saat masak fisologis viabilitas dan vigornya tinggi, viabilitas dan vigor yang tinggi akan berpengaruh secara nyata terhadap peningkatan produksi tanaman yang diusahakan. Oleh karena itu benih dipanen ketika mengalami masak fisiologis, setelah dipanen benih dirontokan dan dilakukan pengolahan, dan pada periode selanjutnya diberikan perlakuan yang baik agar masa simpannya lama.
            Benih yang disimpan dengan baik dan pengelolan teknik yang benar akan menghasilkan benih yang berkualitas baik dalam jangka waktu yang lama, atau bisa dikatakan kualitas benih dapat dipertahankan melalui penyimpanan yang baik. Faktor – faktor yang berpengaruh terhadap masa simpan penih yang terutama adalah suhu, kelembaban, dan kadar air benih. Selain itu yang perlu diperhatikan supaya benih tidak diserang oleh hama kebersihan tempat penyimpanan harus diperhatikan. Untuk menguji benih yang disimpan termasuk benih yang unggul atau tidak salah satunya bisa dilakukan pengujian dengan metode RAM (Rapid anging method).
            Intinya metode pengujian benih dengan metode RAM adalah menekan kondisi benih pada kondisi kelembaban dan suhu yang tinggi. Pada kondisi kelembaban tinggi imbibisi benih akan meningkat sehingga kelembaban didalam benih juga meningkat, kelembaban yang meningkat dapat memicu serangan jamur. Sedangkan pada suhu yang tinggi menyebabkan kadar air benih banyak mengalami kehilngan, kehilangan banyak air berpengaruh terhadap kualitas benih yakni benih cenderung maudah mengalami kerusakan mekanis. Pengujian benih dengan kondisi yang tidak mendukung penting untuk dilakukan supaya ketahanan benih terhadap kondisi tersebut dapat diketahui. Benih yang tehan terhadap deraan suhu dan kelembaban yang tinggi jika dismpan dengan kondisi yang optimum masa simpannya akan lebih lama.

1.1  Permasalahan
Bagaimana cara menentukan ketahanan benih terhadap daya simpan benih sehingga mutu benih dapat dipertahankan?

1.2  Tujuan dan Manfaat
1.2.1     Tujuan
Untuk menentukan ketahanan benih terhadap daya simpannya dengan membuat kondisi yang menekan berupa kelembaban tinggi dan suhu tinggi.

1.2.2     Manfaat
Agar mahasiswa dapat menentukan ketahanan benih terhadap daya simpan benih sehingga mutu benih dapat terjaga.





BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
            Penyimpanan benih dalam rangka pembenihan mempunyai arti yang luas, benih yang disimpan merupakan benih yang telah mencapai kemtangan fisiologis sampai waktu tanam tiba, dapat pada tanaman, digudang atau dalam rangka pengiriman benih itu ketempat, daerah yang memerlukannya. Selama dalam masa penyimpanan, karena pengaruh beberapa faktor, keadaan atau mutu benih akan mengalami kemunduran atau deteriorasi (Kartasapoetra, 1992). Penyimpanan yang tepat yakni dengan membuat lingkungan penyimpanan bersih dan kelembaban dan suhu dapat diatur dengan sedemikian rupa sampai pada titk optimumnya akan memperpanjang masa simpan benih.
Permasalahan yang seringkali terjadi pada pengadaan benih adalah viabilitas yang cepat menurun jika penyimpanannya tidak tepat. Sortasi kelompok benih yang telah rendah kualitasnya secara sederhana dapat dilakukan melalui perendaman dalam suatu cairan (H2O, larutan sukrosa, KNO3, dll). Cara ini didasarkan pada perbedaan berat jenis dan kecepatan penyerapan - pelepasan air dari setiap individu. (Zanzibar, 2008). Penurunan viabilitas benih merupakan suatu indikasi kuat terjadinya proses kemunduran benih atau deterioras, penyebab kemunduran yang utama adalah kadar air yang terlalu sedikit atau terlalu banyak, suhu, dan kelembaban.
Benih yang teridikasi mengalami kemunduran daya simpannya akan menurun drastis. Kemunduran benih merupakan proses penurunan mutu secara berangsur-anngsur dan kumulatif serta  tidak dapat balik (irreversible)  akibat perubahan fisisologis  yang disebabkan oleh faktor  dalam. Proses penuaan atau mundurnya vigor secara fisiologis ditandai dengan penurunan daya berkecambah, peningkatan jumlah kecambah abnormal, penurunan  pemunculan  kecambah  di  lapangan  (field  emergence),  terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman, meningkatnya kepekaan terhadap lingkungan yang ekstrim yang akhirnya dapat menurunkan produksi tanaman (Purwanti, 2004).
            Suhu penyimpanan dan kadar air benih merupakan faktor penting yang mempengaruhi masa hidup benih. Biasanya kadar air benih lebih besar pengaruhnya dari pada suhu. Pada kisaran suhu tertentu, umur penyimpanan benih sayuran, bunga – bungaan dan tanaman pangan menurun dengan meningkatnya suhu, kecuali benih – benih tertentu yang berumur pendek. Secara umum, viabilitas dan vigor benih menurun sejalan dengan meningkatnya suhu dan semakin lamanya benih terkena suhu tinggi, dan semakin meningkatnya kandungan kadar air benih. Pada suhu tertentu kerusakan berkurang dengan berkurangnya kadar air (Justice dan Bass, 1994; Terjemahan Rennie Roeslie).
Berdasarkan penelitian Atmaka dan Kawiji (2004) Perubahan  kadar air  selama penyimpanan terlihat peningkatan kadar air yang relatif lambat sampai hari ke-70 setelah penyimpanan. Selanjutnya peningkatan kadarair yang lebih besar terlihat sampai hari ke-112. Jagung varietas Arjuna secara umum mempunyai kadar air yang lebih tinggi dibandingkan dengan kedua varietas lainnya, khususnya pada pengamatan hari pertama dan setelah penyimpanan 112 hari.   Kondisi ini disebabkan karena tiap-tiap varietas secara genetik mempunyai kandungan air yang berbeda-beda dan mempunyai kemampuan menahan air yang berbeda-beda. Selain itu biji jagung yang disimpan dalam karung plastik tersebut senantiasa berusaha menyesuaikan diri pada kondisi lingkungan yang seimbang sehingga mengakibatkan peningkatan kadar air yang berbeda-beda pada tiap perlakuan suhu pengeringan.
Penentuan kadar air untuk penyimpanan benih salah satunya melalui pertimbangan genetis benih. Tiap benih orthodox meskipun jenisnya sama yakni membutuhkan kadar air yang rendah dalam penyimpanannya namun untuk lamanya benih dalam kondisi prima berbeda – beda. Hal tersebut dikarenakan faktor genetis masing – masing benih berbeda. Menurut Sudarmaji, et al., (1989) komposisi kimia benih seperti karbohidrat, protein, dan lemak dapat berpengaruh terhadap lama masa simpan suatu benih. Benih dengan kandungan protein tinggi seperti kedelai cenderung mudah pecah dibandingkan jagung yang kadar proteinnya lebih rendah. Oleh karena itu benih kedelai tidak bisa disimpan dalam waktu yang relatif lama karena rawan terjadi kerusakan mekanis.
Sebagai tanaman pangan, kedelai dapat disimpan dalam jangka waktu cukup lama. Caranya kedelai disimpan di tempat kering dalam karung. Karung-karung kedelai ini ditumpuk pada tempat yang diberi alas kayu agar tidak langsung menyentuh tanah atau lantai. Apabila kedelai disimpan dalam waktu lama, maka setiap 2-3 bulan sekali harus dijemur lagi sampai kadar airnya sekitar 9-11 % (Rukmana dan Yuniarsih, 1996). Untuk mengetahui ketahanan benih terhadap daya simpannya dengan membuat kondisi yang menekan berupa kelembaban tinggi dan suhu tinggi. Metode pengujian tersebut dikenal dengan istilah RAM (Rapid anging method), benih yang mempunya viabilitas dan vigor yang tingga akan tahan terhadap deraan kelembaban dan suhu yang tinggi.




BAB 3. METODOLOGI
3.1  Waktu dan Tempat
            Praktikum Uji Daya Simpan Benih Dengan Metode Rapid Aging Method (RAM) dilaksanakan pada hari Sabtu, 19 Nopember 2011, pukul 07.30 WIB. dan bertempat di Laboratorium Teknologi Benih, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jember.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1.      Beaker glass
2.      Krisper plastik
3.      Termometer
4.      Alat pengukur RH
5.      Alat pengukur kaar air benih atau tester
6.      Inkubator
7.      Alat pengecambah

3.2.2 Bahan
1.      Benih jagung
2.      Benih kedelai
3.      Substrat kertas merang
4.      Plastik

3.3 Cara Kerja
1.      Menyiapkan bahan dan alat yang digunakan.
2.      Megukur kadar air benih yang akan disiman dengan alat pengukur kadar air benih atau dengan metode oven.
3.      Memasukkan lembaran kertas merang yang basah dalam dasar krisper dan bagian dalam tutup krisper diberi lapisan kertas merang yang kering untuk menyerap air yang berkondensasi.
4.      Meletakkan benih yang akan diuji dalam beaker glass terbuka dan memasukkan dalam krisper dengan keadaan tertutup (ada dua ulangan).
5.      Menempatkan krisper dalam inkubator yang berkelembaban nisbi (RH) 100% dan suhu 40 °C selama empat hari (4 x 24 jam). Memasukkan benih dalam kaleng sebagai pembanding (kontrol) dan menutup rapat.
6.      Menanam masing-masing benih sebanyak 25 butir dalam substrat kertas dengan metode uji UKDdp.




VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1  Hasil
Tabel 4.1 Hasil pengukuran kadar air benih














Tabel 4.2 Perkecambahan benih




















4.2  Pembahasan
Kondisi lingkungan yang optimum dan kebersihan tempat penyimpanan berpengaruh positif terhadap lamanya masa simpan benih. Kadar air merupakan salah satu kunci penyimpanan, benih dapat dipertahankan pada kualitas yang baik. Pada prinsipnya benih terbagi atas dua jenis berdasarkan kebutuhan kadar air optimum dalam penyimpanan. Benih yang membutuhkan kadar air relatif rendah dalam penyimpanan disebut benih orthodox, benih tersebut optimal disimpan dengan kadar air 10 – 14%, contohnya kedelai, padi, jagung, dan gandum.
Sebaliknya benih yang membutuhkan kadar air tinggi selama penyimpanan tergolong benih rekalsitran, pada benih kakao yang tergolong rekalistran kadar air optimal selama penyimpanan berkisar 40 – 50 %. Tetapi yang perlu diingat benih rekalsitran tidak bisa disimpan terlalu lama, hal ini berkaitan dengan potensi hilangnya kadar air secara drastis karena sesuatu hal yang menyebabkan benih rusak. Selain itu menurut beberapa peneliti masa simpan benih rekalsitran secara genetis memang lebih rendh dibandingkan benih orthodox. Benih orthodox bisa disimpan hingga bertahun – tahun jika kondisi penyimpananya optimum, tetapi ada juga benih orthodox yang masa simpannya pendek misalnya kedelai yang hanya tahan ± 3 bulan. Hal tersebut terjadi karena benih mempunyai karakteristik yang berbeda dalam hal ini susunan komposisi kimia dan sifat fisiologis benih.
Menurut Hasanah (2002) Benih ortodok umumnya dimiliki oleh spesies – spesies tanaman setahun, dua tahun (bienial) dengan ukuran benih kecil. Benih ortodok tahan pengeringan sampai kadar air mencapai 5% dan dapat disimpan pada suhu rendah. Daya simpan benih dapat diperpanjang dengan menurunkan kadar air dan suhu. Berbeda halnya dengan Benih rekalsitran, benih tersebut tidak tahan disimpan pada suhu dibawah 200C. Beberapa spesies tanaman tropis yang mempunyai sifat rekalsitran atau peka terhadap suhu rendah adalah kemiri, kayu manis, pala, kelapa, dan palma lainnya. Kelompok tanaman ini menghasilkan benih yang tidak pernah kering pada tanaman induknya, bila gugur benih masih dalam kondisi lembab dan mati apabila kadar air kritis. Benih yang disimpan dalam kondisi yang lembab daya hidupnya relatif pendek bergantung spesiesnya. Faktor – faktor yang mempengaruhi benih selama penyimpanan antara lain sebagai berikut :
1. Kadar air
            Salah satu sifat benih yang perlu diketahui adalah benih bersifat higroskopis, artinya benih mampu menyerap dan mengeluarkan air berdasarkan kebutuhannya menuju keseimbangan. Keseimbangan akan dicapai jika benih cenderung tidak melakukan aktivitas penyerapan dan pelepasan air. Pada kondisi dimana kadar air terlalu tinggi akan berpengaruh terhadap naiknya kelembaban dan respirasi benih sehingga energi yang dilepaskan untuk kegiatan tersebut terlalu banyak. Banyaknya energi yang terlepas untuk respirasi menyababkan benih kehilangan banyak energi untuk perkecambahan, akibatnya benih dapat mengalami kemunduran atau perkecambahan benih terhambat. Benih cenderung berkecambah abnormal bahkan benih yang ketahanannya sangat rendah akan mati. Sebaliknya pada lingkungan dengan kadar air yang terlalu rendah benih tidak bisa menyerap air dalam jumlah yang cukup yang menyebabkan benih mudah mengalami keruskan mekanis.
2. Kelembaban
            Kelembaban yang tinggi terjadi jika kadar air benih terlalu tinggi dengan suhu yang tinggi pula. Banyaknya air yang diserap oleh benih melalui mekanisme higroskopis akan meningkatkan kelembaban, pada kelembaban yang tinggi benih sangat rentan terhadap serangan penyakit terutama jamur. Benih yang terserang jamur sebagian besar tumbuh abnormal dan mati bergantung vigor benih. Untuk mengetahui kelembaban yang optimal untuk penyimpanan benih dilakukan dengan mengukur kelembaban yang didasarkan padar grafik isotherma absorbsi yang menunjukan kaitan dari kandungan benih dengan kelembaban relatif udara pada suhu tertentu.
3. Suhu

            Suhu udara dapat mempengaruhi proses biokimia maupun organisme lainnya untuk aktif. Proses biokimia serta aktifitas serangga, jamur dan bakteri dapat terhambat pada kondisi suhu di bawah 8-10 C. Pada kondisi demikian dapat mengakibatkan kerja enzim yang terkandung di dalam benih dalam fase istirahat, sehingga dengan demikian baik enzim yang terdapat di dalam benih, serangga, bakteri maupun jamur tidak aktif. Oleh karena itu, benih dapat aman apabila dikondisikan pada suhu tersebut.
4. Jenis Benih
            Jenis serealia yang berbeda, dalam penyimpanan dibawah keadaan atau persyaratan yang sama, umumnya daya simpannya akan berbeda pula. Hal ini berarti jenis yang satu lebih lambat kehilangan daya tumbuhnya, sedang jenis benih yang lainnya akan lebih cepat. Kejadian demikian akan terjadi pula pada jenis benih yang berlainan varietasnya, bila mengalami penyimpanan umur simpannya berbeda – beda (Kartasapoetra, 1992).
5. Kandungan O2 dan CO2
            Benih dengan kadar air dibawah 10% akan dapat bertahan lebih lama, apabila CO2 pada udara disekeliling benih tersebut kenyataannya lebih tinggi daripada  O2 pada udara itu. Benih dengan kadar air lebih dari 14% akan lebih pendek umurnya karena uap air disekeliling benih itu akan menurunkan O2 nya dan menaikan CO2 pada udara tersebut (Kartasapoetra, 1992).
6. Cahaya
Jenis benih yang memiliki tipe ortodoks tidak dapat dipengaruhi oleh cahaya pada saat pentimpanan. Jenis-jenis benih yang foto-dormansi, yaitu benih yang akan berkecambah pada saat ada ransangan cahaya harus diperhatikan dalam proses penyimpanan. Karena cahaya yang diterima oleh benih akan merangsang benih untuk berkecambah. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka pada saat melaksanakan penyimpanan benih harus memperhatikan sifat dari benih terhadap faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas benih. Pengkondisian yang sesuai dengan sifat benih akan sangat menjaga kualitas fisik-fisiologik dari benih yang disimpan. Oleh karena itu, implikasinya kepada teknik penyimpanan benih. Pada dasarnya semua teknik penyimpanan benih dapat dilakukan dengan pertimbangan bahwa benih yang disimpan harus kompatibel antara kondisi lingkungan serta sifat dari benih.
            Uji daya simpan benih dalam praktikum, dilakukan dengan metode RAM (Rapid anging method). Metode ini bertujuan menguji daya tahan benih dengan tekanan atau deraan suhu dan kelembaban yang tinggi. Benih yang dapat berkecambah dengan normal pada kondisi tersebut diasumsikan sebagai benih vigor yang diharapkan bila digunakan sebagai bahan tanam pada lahan yang sesungguhnya dapat tumbuh dengan optimum sehingga produksi yang dihasilkan tinggi. Pada krisper benih dilakukan dua perlakuan yakni kontrol dan RAM, benih yang digunakan dalam praktikum adalah jagung dan kedelai.
            Benih jagung dan kedelai yang digunakan ada dua jenis yakni jenis A dan B, sebelum dilakukan pengujian benih dengan tekanan kelembaban dan suhu tinggi (RAM) benih terlebuh dahulu dilakukan pengukuran kadar air. Berdasarkan pengukuran kadar air yang telah dilakukan kadar air benih dapat digolongkan optimal untuk penyimpanan benih kecuali pada kedelai A yang mana kadar airnya hanya 8,64%. Kadar air optimal untuk penyimpanan benih ortodox adalah 10 – 14%, kadar air yang terlalu rendah pada benih ortodoks dapat memicu terjadinya kerusakan mekanis pada benih terutama benih kedelai. Kerusakan mekanis yang dimaksud misalnya benih mengalami pecah – pecah atau terluka maupun kulit benih terkelupas. Dari hasil penghitungan kadar air berturut - turut jagung A mengandung 12,68%, jagung B 11,2%, dan kedelai B 10,52%.
            Setelah dilakukan pengukuran kadar air benih dilakukan uji RAM, benih yang ditempatkan pada krisper dengan berbagai perlakuan diletakkan kedalam inkubator selama (4 x 24 jam), dengan kelembaban nisbi (RH) 100% dan suhu 400 dalam kaleng dan ditutup dengan rapat. Kaleng atau botol film didalam krisper ada yang dilubangi dan ada juga yang tidak dilubangi, pada botol film yang tidak dilubangi kadar air dan suhu cenderung terjaga, sedangkan yang dilubangi tekanan kelembaban dan suhu akan sangat berpengaruh terhadap kualitas benih.
Suhu tinggi dihasilkan dari inkubator, sedangkan kelembaban tinggi berasal dari krisper bagian tutup yang dibagian atasnya diberikan kertas merang sehingga air yang dilepaskan benih melalui mekanisme higroskopis akan terserap pada bagian kertas merang. Sifat higroskopis benih adalah menyerap dan melepaskan air, air yang apa pada kertas merang tersebut lama kelamaan akan bertambah sehingga kelembaban akan naik dan saat diserap kembali oleh benih air berlimpah. Air tidak hanya dihasilkan melalui proses penguapan benih, melainkan juga dihasilkan pada areal udara yang banyak mengandung air pada inkubator sebelum ditutup, adanya kertas merang dibagian tutup krisper mengkibatkan terjadinya kondensasi.
                Kondensasi atau pengembunan adalah perubahan wujud benda ke wujud yang lebih padat, seperti gas (atau uap) menjadi cairan. Kondensasi terjadi ketika uap didinginkan menjadi cairan, tetapi dapat juga terjadi bila sebuah uap dikompresi (yaitu, tekanan ditingkatkan) menjadi cairan, atau mengalami kombinasi dari pendinginan dan kompresi. Cairan yang telah terkondensasi dari uap disebut kondensat. Sebuah alat yang digunakan untuk mengkondensasi uap menjadi cairan disebut kondenser. Kondenser umumnya adalah sebuah pendingin atau penukar panas yang digunakan untuk berbagai tujuan, memiliki rancangan yang bervariasi, dan banyak ukurannya dari yang dapat digenggam sampai yang sangat besar. Kondensasi uap menjadi cairan adalah lawan dari penguapan  (evaporasi) dan merupakan proses eksothermik (melepas panas). Air yang terlihat di luar gelas air yang dingin di hari yang panas adalah kondensasi (Wikipedia, 2011). Oleh karena itu benih yang mendapat perklakuan RAM yakni dengan botol film dilubangi ketika dilakukan pengujian perkecambahan daya kecambahnya sangat rendah, sebegian besar benih banyak yang mati.
Hasil uji perkecambahan benih menunjukan pada perlakuan kontrol menunjukan perkecambahan yang jauh lebih tinggi dibandingkan perlakuan RAM pada semua perlakuan. Daya perkecambahan benih pada perlakuan kontrol lebih dari 84%, seperti yang dijelaskan sebelumnya benih kontrol diletakkan pada botol film yang tertutup rapat (kedap udara) sehingga tidak terpengaruh oleh tekanan kelembaban dan suhu tinggi. Daya kecambah paling tinggi diperoleh pada perlakuan kontrol pada jagung B dimana pada ulangan 1 benih yang berkecambah normal sebanyak 25 atau 100%.
Hasil yang jauh berbeda ditunjukan pada perlakuan RAM, sebagian besar benih yang dikecambahkan setelah diletakkan didalam inkubator selama 4 hari benih mati atau tumbuh abnormal. Pada kedelai B hari ke-3 setelah perkecambahan benih mati 100% baik ulangan 1 dan 2, hal yang sama juga terjadi pada kedelai A pada hari ke-5 setelah perkecambahan benih yang hidup adalah 0%.
Benih jagung menunjukan  respon yang berbeda terutama pada jagung A, ulangan 1 beih yang tumbuh secara normal sebanyak 17 benih atau 68%, dan ulangan 2 sebanyak 15 atau 60%. Hasil ini menunjukan bahwa vigor jagung A terhadap suhu dan kelembaban tinggi sangat tinggi, sehingga kemungkinan besar benih jagung A sangat baik untuk dijadikan sebagai bahan tanam. Pada jagung B meskipun ada benih yang tumbuh normal tetapi presentasenya sangatlah kecil yakni 16% pada ulangan 1 dan 12% pada ulangan 2. Tetapi hasil tersebut setidaknya lebih baik dibandingkan hasil perkecambahan pada benih kedelai.
            Tingginya vigor jagung dibanding kedelai terhadap perlakuan RAM sangat dipengaruhi oleh faktor genetis, dimana struktur jagung yang lebih keras sehingga embrio yang ada pada titik tumbuh tidak mengalami kerusakan. Selain itu benih yang sehat cadangan makananya akan cukup yang dapat digunakan embrio untuk metabolismenya dalam upayanya untuk berkecambah. Sedangkan pada benih kedelai teksturnya yang tidak keras sangat dimungkinkan dengan tekanan suhu dan kelemban yang tinggi mengakibatkan terjadinya denaturasi protein, lemak, dan karbohidrat bahkan embrio sehingga sebagian besar benih kedelai mati.
Beberapa teknik yang dapat dilakukan dalam proses penyimpanan benih supaya mutu benih tetap terjaga selama penyimpananan antara lain :
1.  Benih yang akan disimpan sebaiknya dikemas dengan menggunakan kemasan yang baik, seperti menggunakan plastik, baik maupun wadah yang cukup kedap udara.
2. Mengkondisikan benih yang dipak oksigennya tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah. Untuk mengkondisikannya dapat dilakukan dengan menggunakan vakum maupun penyedot udara.
3.     Wadah yang digunakan ditutup rapat agar tidak terjadi perubahan oksigen selama penyimpanan.
4.   Dapat juga memberikan karbon di wadah yang digunakan. Pemberian karbon dapat membantu untuk mengikat oksigen yang terdapat di dalam wadah.
5.    Karbon dapat diberikan dengan cara menggunakan arang maupun abu serta hembusan asap lilin ke dalam wadah.
6.   Perhatikan kadar air benih yang disimpan, apabila benih masih memiliki kadar air yang tinggi sebaiknya diturunkan dulu.
7.    Perhatikan bahan karbon yang dimasukkan ke dalam wadah (karbon harus benar-benar dalam kondisi kering). Penggunaan bahan karbon yang basah dapat mengakibatkan meningkatnya kadar air benih.
8.     Simpan benih dalam kondisi suhu dan kelembaban yang sesuai dengan persyaratan. Ruang penyimpanan dapat berupa DCS, refigerator maupun ruangan yang telah diset dengan suhu yang baik untuk proses penyimpanan. Untuk benih-benih tertentu (ortodoks) dapat disimpan dalam ruang suhu kamar, apabila penyimpanan benih tidak terlalu lama.
Pada prinsipnya tempat penyimpanan yang baik harus memenuhi beberapa kriteria seperti (1) mengurangi metabolisme benih, hal ini penting supaya energi yang digunakan benih tidak banyak terbuang percuma misalnya untuk respirasi yang berlebih atau respon dari luka yang mungkin muncul. Banyaknya energi yang terbuang percuma menyebabkan benih mengalami kemunduran (2). Kemunduran benih ditandai dengan kerusakan mekanis, daya kecambah rendah, terjadi peningkatan kecambah abnormal, peka terhadap radiasi dan lain sebagainya. (3) Kondisi penyimpanan yang ideal harus dapat meminimalisir keberadaan serangga, jamur, dan penyebab penyakit lainnya yang dapat menurunkan kualitas benih. Cara untuk meminimalisir serangga dan penyebab penyakit adalah dengan menjaga kelembaban, suhu, dan kadar air yang optimal untuk penyimpanan benih.
Berdasarkan hasil yang diperoleh kualitas benih yang diperlakukan pengukuran derajat kemunduran dengan metode RAM (Rapid anging method) secara keseluruhan mengalami penurunan drastis, terutama pada kedelai dimana benih mati 100%. Metode pengujian derajat kemunduran RAM pada intinya adalah menekan kondisi benih pada kondisi kelembaban dan suhu yang tinggi untuk mengetahui vigor benih dengan metode tersebut.
Justise dan Bass (1994) melaporkan hasil rata – rata dua periode simpan benih sayuran menunjukan bahwa daya kecambah benih menurun sejalan dengan meningkatnya suhu suhu atau kelembaban nisbi selama penyimpanan. Setelah 110 hari, rata – rata daya kecambah benih yang disimpan pada suhu 100C dan kelembaban nisbi 81% hanya berbeda 0,6% dari benih yang disimpan pada suhu 26,70C pada kelembaban nisbi 44%. Tetapi setelah 250 hari rata – ratanya berbeda 4,1%. Hasil penelitian tersebut jelas menunjukan bahwa benih yang disimpan pada suhu dan kelemban nisbi yang tinggi akan terjadi penurunan kualitas secara drastis. Banyaknya benih kedelai yang mati sewaktu dikecambahkan menunjukan bahwa vigor benih kedelai lebih rendah dibandingkan jagung, jagung dengan perlakuan RAM daya kecambahnya juga lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan normal.




BAB 5. KESIMPULAN  

1. RAM adalah suatu metode untuk menguji derajat kemunduran benih dengan deraan suhu dan kelemaban tinggi.
2. Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa daya kecambah benih dengan perlakuan RAM adalah 0%, sedangkan untuk kedelai kontrol diatas 84%. Benih jagung dengan perlakuan RAM daya kecambahnya jauh lebih tinggi dibandingkan kedelai perlakuan RAM.
3.  Kelembaban dan suhu tinggi berpengaruh nyata terhadap penurunan daya kecambah dan vigor benih.
4.  Benih jagung A menunjukan vigor paling tinggi dibanding perlakuan yang sama pada benih lain dengan daya kecambah 68% pada ulangan 1 dan 60% ulangan 2.




DAFTAR PUSTAKA

Atmaka dan Kawiji. 2004. Pengaruh Suhu dan Lama Pengeringan Terhadap Kualitas Tiga Varietas Jagung (Zea mays L.). Surakarta : UNS Press

Hasanah. 2002. Peran Mutu Fisiologik Benih dan Pengembangan Industri Benih Tanaman Industri. Jurnal Litbang Pertanian. Volume 21 (3) : 84 – 92

Justice dan Bass. 1994. Prinsip Praktek Penyimpanan Benih. Jakarta : PT Grafindo Persada. Diterjemahkan oleh Rennie Roesli

Kartasapoetra. 1992. Teknologi Benih Pengolahan Benih dan Tuntunan Praktikum. Jakarta : Rineka Cipta

Purwanti, S. 2004. Kajian Suhu Ruang Simpan Terhadap Kualitas Benih Kedelai  Hitam Dan Kedelai Kuning. Ilmu Pertanian 11(1): 22-31.

Rukmana, dan Yuniarsih. 1996. Kedelai, Budidaya Pasca Panen. Yogyakarta : Kanisius.

Sudarmadji S, Bambang Haryono, Suhardi. 1989. Analisis Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta : Penerbit Liberty

Wikipedia. 2011. Kondensasi. http://id.wikipedia.org/wiki/Kondensasi. diakses 13 Desember 2011

Zanibar, M. 2008. Metode Sortasi Dengan Perendaman Dalam H2o Dan Hubungan Antara Daya Berkecambah Dan Nilai Konduktivitas Pada Benih Tusam (Pinus merkusii Jungh et de Vriese). Jurnal Standardisasi 10(2) : 86 –  92.