Senin, 24 Desember 2012

VALIDASI PENGUKURAN KADAR AIR BENIH

                                    VALIDASI PENGUKURAN KADAR AIR BENIH


                                                         BAB 1. PENDAHULUAN 

1.1 Latar Belakang
Kadar air merupakan komponen penting yang harus dipertimbangkan ketika pemanenan benih dan penyimpanan benih, dengan kadar air yang tepat akan mempertahankan kualitas benih selama proses penyimpanan. Pada dasarnya tipe benih dibedakan menjadi dua yakni benih rekalsitran dimana struktur benih banyak mengandung air sehingga dalam proses penyimpanannya membutuhkan kadar air yang relatif tinggi. Jenis benih lain berdasarkan kadar air yang dibutuhkan adalah benih orthodox, contoh benihnya antara lain padi, jagung, kedelai, kacang hijau dan lain – lain, kadar air yang dikehendaki benih orthodox berkisar 12% - 15%. 

Benih dengan kadar air terlalu rendah relatif rawan terjadi kerusakan mekanis yakni benih mudah pecah, benih yang mudah pecah biasanya cenderung mengandung protein yang tinggi. Sementara jika kadar air terlalu tenggi ada dua kemungkinan yang terjadi, kemungkinan pertama benih akan berkecambah karena terdapat air yang cukup, kemungkinan lain benih akan rusak akibat serangan bakteri atau jamur akibat kelembaban relatif yang meningkat yang dipicu oleh tingginya kadar air. Benih orthodox umunya setelah panen berlangsung dilakukan penjemuran atau pengeringan mesin untuk menggurang kadar air. Permasalahan - nya untuk menentukan lamanya pengeringan yang dilakukan membutuhkan ketelitian atau pengalaman tersendiri jika dilakukan secara manual, itupun hasilnya masih kurrang memusakan akrena tidak bisa diperoleh kadar air secara pasti.

Kadar air benih dapat diukur dengan menggunakan metode langsung (menggunakan oven) maupun tidak langsung dengan menggunakan moister tester. Prinsip kerja pada pengukuran kadar air secara tidak langsung dengan menggunakan oven adalah pengurangan antara beret basah yakni berat benih sebelum dioven dikurang dengan berat kering. Selisih tersebut dibagi dengan berat basah dikalikan 100% sehingga bisa diperoleh kadar air. Sedangkan pengukuran tidak langsung kadar air dapat segera diketahui setelah benih dilakukan pengukuran kadar air melalui moiture tester. Penentuan kadar air wajib untuk dikuasai oleh praktikan, kedepan dengan menguasai teknik pengukuran kadar air yang baik diharapkan didunia kerja dapat dimanfaatkan sebagai pertimbangan penentuan kadar air sebelum panen dan penentuan kadar air selama masa simpan benih. 

1.2 Perumusan Masalah
1. Bagaimana mekanisme pengeringan pendahuluan, cara melakukannya, dan mengetahui
    pengeringan  tersebut? 
2. Kelemahan dan kelebiahan apa dalam mengukur kadar air dengan menggunakan metode oven
    dan moisture tester? 
3. Mengapa benih jagung harus ditumbuk terlebih dahulu dan apa tujuan pengovenan pada
    praktikum? 
4. Mengapa dalam proses pengovenan ada perbedaan waktu antara benih kedelai dan benih jagung? 

1.3 Tujuan
           Memperkenalkan dan membendingkan pengukuran kadar air benih dengan metode langsung dan tidak langsung serta menentukan kevalidan penguku-ran kaar air benih dengan moisture tester.

1.4 Manfaat
1. Mahasiswa mengatahui dan mampu mengaplikasikan metode pengukuran kadar air benih baik
    dengan metode langsung (oven) atau tidak langsung (moisture tester). 
2. Mahasiswa mampu menganalisis kondisi optimal benih untuk disimpan melaului pengukuran
    kadar air yang telah dilakukan. 




                                                            BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

        Berdasarkan sifatnya, benih dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu benih ortodoks dan benih rekalsitran. Benih ortodoks adalah benih yang dapat disimpan lama, kadar air dapat diturunkan sampai di bawah 10%, dan dapat disimpan pada suhu dan kelembapan rendah. Benih rekalsitran yaitu benih yang tidak dapat disimpan dalam waktu lama, tidak tahan atau mati jika disimpan pada suhu dingin, dan tidak tahan disimpan bila kadar airnya diturunkan sampai di bawah kadar air kritis. Dalam memproduksi benih berkualitas tidak dibedakan antara benih ortodoks dan benih rekalsitran. Persyaratan agronomis dengan mengacu pada Good Agricultural Practices (GAP) harus diikuti dengan persyaratan lain seperti benih harus sudah mencapai masak fisiologis serta seragam agar benih yang dihasilkan berkualitas baik. 
           Kadar air benih ialah berat air yang dikandung dan yang kemudian hilang karena pemanasan sesuai dengan aturan yang ditetapkan, yang dinyatakan dalam persentase terhadap berat awal contoh benih. Penetapan Kadar Air adalah banyaknya kandungan air dalam benih yang diukur berdasarkan hilangnya kandungan air tersebut & dinyatakan dalam % terhadap berat asal contoh benih. Tujuan penetapan kadar air diantaranya untuk untuk mengetahui kadar air benih sebelum disimpan dan untuk menetapkan kadar air yang tepat selama penyimpanan dalam rangka mempertahankan viabilitas benih tersebut (Nasrudin, 2009). 
            Aerasi akan menurunkan suhu, dan pemberian aerasi yang tepat dapat mencegah kerusakan benih akibat berpindahnya kelembapan. Benih yang dipanen dengan kadar air di atas 15−16% perlu dikeringkan. Pengeringan perlu dilakukan segera setelah benih dipanen, karena makin lama penundaan pengeringan, kualitas benih yang dihasilkan makin menurun. Benih berkualitas tinggi memiliki daya simpan yang lebih lama daripada benih berkualitas rendah. Kualitas benih tidak dapat diperbaiki dengan perlakuan penyimpanan, karena penyimpanan hanya bertujuan untuk mempertahankan kualitas benih (Hasanah dan Rusmin, 2007). 
         Hasil penelitian Purwanti (2004) menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara warna kulit benih dengan suhu ruang simpan. Benih kedelai hitam yang disimpan dalam kaleng dan kantong plastik pada suhu rendah maupun suhu tinggi selama enam bulan masih mampu mempertahankan daya tumbuh (>90%), vigor dan pertumbuhan bibit yang tinggi dibandingkan dengan kedelai kuning. Benih kedelai kuning yang disimpan enam bulan dalam kaleng maupun kantong plastik pada suhu rendah masih mempunyai daya tumbuh tinggi (> 80 %), pada suhu tinggi daya tumbuh benih mulai mengalami penurunan pada bulan kedua sampai akhir penyimpanan menjadi 41% dan pertumbuhan bibit rendah. 
       Menurut Ramelan (1996), kecepatan udara pengering, suhu dan kelembaban udara merupakan faktor yang menentukan proses pengeringan. Demikian juga sifat bahan yang dikeringkan seperti kadar air awal, ukuran produk pertanian dan tekanan partial bahan akan mempengaruhi proses pengeringan. Suhu dan kecepatan aliran udara yang tinggi akan mempercepat proses pengeringan. 
         Berdasarkan penelitian Atmaka dan Kawiji (2004) Perubahan kadar air selama penyimpanan terlihat peningkatan kadar air yang relatif lambat sampai hari ke-70 setelah penyimpanan. Selanjutnya peningkatan kadarair yang lebih besar terlihat sampai hari ke-112. Jagung varietas Arjuna secara umum mempunyai kadar air yang lebih tinggi dibandingkan dengan kedua varietas lainnya, khususnya pada pengamatan hari pertama dan setelah penyimpanan 112 hari. Kondisi ini disebabkan karena tiap-tiap varietas secara genetik mempunyai kandungan air yang berbeda-beda dan mempunyai kemampuan menahan air yang berbeda-beda. Selain itu biji jagung yang disimpan dalam karung plastik tersebut senantiasa berusaha menyesuaikan diri pada kondisi lingkungan yang seimbang sehingga mengakibatkan peningkatan kadar air yang berbeda-beda pada tiap perlakuan suhu pengeringan. 
        Penentuan kadar air untuk penyimpanan benih salah satunya melalui pertimbangan genetis benih. Tiap benih orthodox meskipun jenisnya sama yakni membutuhkan kadar air yang rendah dalam penyimpanannya namun untuk lamanya benih dalam kondisi prima berbeda – beda. Hal tersebut dikarenakan faktor genetis masing – masing benih berbeda. Menurut Sudarmaji, et al., (1989) komposisi kimia benih seperti karbohidrat, protein, dan lemak dapat berpengaruh terhadap lama masa simpan suatu benih. Benih dengan kandungan protein tinggi seperti kedelai cenderung mudah pecah dibandingkan jagung yang kadar proteinnya lebih rendah. Oleh karena itu benih kedelai tidak bisa disimpan dalam waktu yang relatif lama karena rawan terjadi kerusakan mekanis. 
        Sebagai tanaman pangan, kedelai dapat disimpan dalam jangka waktu cukup lama. Caranya kedelai disimpan di tempat kering dalam karung. Karung-karung kedelai ini ditumpuk pada tempat yang diberi alas kayu agar tidak langsung menyentuh tanah atau lantai. Apabila kedelai disimpan dalam waktu lama, maka setiap 2-3 bulan sekali harus dijemur lagi sampai kadar airnya sekitar 9-11 % (Rukmana dan Yuniarsih, 1996). 
         Beberapa hal perlu diperhatikan dalam pengujian kadar air benih ini adalah contoh kerja yang digunakan merupakan benih yang diambil dan ditempatkan dalam wadah yang kedap udara. Karena untuk penetapan kadar air, jika contoh kerja yang digunakan telah terkontaminasi udara luar maka kemungkinan besar kadar air benih yang diuji bukan merupakan kadar air benih yang sebenarnya karena telah mengalami perubahan akibat adanya kontaminasi udara dari lingkungan. Yang kedua adalah untuk pengujian kadar air ini harus dilakukan sesegera mungkin, selama penetapan diusahakan agar contoh benih sesedikit mungkin berhubungan dengan udara luar serta untuk jenis tanaman yang tidak memerlukan penghancuran, contoh benih tidak boleh lebih dari 2 menit berada di luar wadah. Metode yang digunakan untuk menguji kadar air ini juga harus diperhatikan. Ada dua metode dalam pengujian kadar air benih, yaitu : 
a) Konvensional ( Menggunakan Oven ) 
b) Automatic (Menggunakan Balance Moisture Tester, Ohaus MB 45, Higromer), dalam metode ini hasil pengujian kadar air benih dapat langsung diketahui (Nasrudin, 2009) 




                                                  BAB 3. METODOLOGI 


3.1 Waktu dan Tempat 
           Praktikum Validasi Pengukuran Kadar Air Benih dilaksanakan pada hari Sabtu, 29 Oktober 2011, pukul 07.30 WIB. dan bertempat di Laboratorium Teknologi Benih, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jember. 

3.2 Alat dan Bahan 
3.2.1 Alat 
1. Oven 
2. Eksikator 
3. Cawan porselin 
4. Alat penghancur benih 
5. Beberapa macam alat moisture tester 
6. Timbangan analitis 

3.2.2 Bahan 
1. Benih kedelai, jagung atau padi 

3.3 Cara Kerja 
3.3.1 Metode Langsung (Metode Oven) 
3.3.1.1 Metode oven suhu rendah 
1.Memanaskan cawan porselin dan menutup dalam oven suhu 103 °C selama 5-10 menit, 
   mendinginkan dan menimbang (b1 gram). Jangan lupa memberi nomor pada cawan dan menutup. 
2.Menimbang benih sebanyak 4-5 gram atau 10 gram (tergantung diameter wadah cawan) setiap
   ulangan.
3.Menumbuk dengan alat penghancur atau seed grinder benih apabila benih keras sampai
   halus minimal 50% dari partikel lolos dari saringan diameter 0,50 mm. 
4.Memasukkan benih kedalam cawan porselin dan menutup, selanjutnya menimbang (b2 gram). 5.Memasukkan cawan porselin berisi benih dalam keadaan terbuka ke dalam oven suhu (102°
   ±2°)C konstan selama (17±1) jam. Metode oven suhu rendah ini berlaku untuk benih kedelai,
   kacang tanah, kapas, wijen, jarak, cabe, terong, sawi, dan lain sebagainya. 
6.Menutup cawan porselin berisi benih secepatnya setelah selesai masa pengeringan, kemudian
   memasukkan  ke dalam desikator selama 30-40 menit. 
7.Menimbang cawan poeselin, menutuo dan benih yang telah di oven (b3 gram). 

3.3.1.2 Metode oven suhu tinggi 
           Prosedur hampir sama dengan metode oven suhu rendah, hanya proses pengeringan berlaku suhu (130-133°) C konstan selama 4 jam untuk jagung, 2 jam untuk serealia lainnya dan 1 jam untuk jenis tanaman lain. 

3.3.2 Metode Tidak Langsung 
1.Menimbang masing-masing contoh benih kedelai, jagung atau benih lainnya sesuai dengan
   kebutuhan.
2.Melakukan pengukuran kadar air benih dengan alat Moisture Meter TS-5 atau Grainer II
   Kett/PM-300 sesuai dengan petunjuk pengenalan alat.

3.4 Rancangan Evaluasi
 1. Pengukuran kadar air benih dengan menggunakan metode langsung (metode oven suhu konstan
     rendah atau tinggi), dihitung dengan rumus :

Keterangan :     Ka = Kadar air 
                       b1  = bobot cawan porselin dan tutup 
                       b2 = bobot cawan porselin, tutup dan benih sebelum di oven 
                       b3 = bobot cawan porselin, tutup dan benih sesudah di oven 

2.Penggunaan kadar air benih dengan menggunakan metode langsung melalui pengeringan  pendahuluan, dihitung dengan rumus :


3.Pengukuran kadar air benih dengan menggunakan metode tidak langsung seperti metode moiture tester, dapat diketahui langsung dari alat tersebut.

4.Pengukuran air dari kedua metode tersebut dilakukan secara duplo (2 ulangan) untuk masing – masing contoh benih (10 contoh benih).
5.Membandingkan hasil pengukuran kadar air benih antara metode oven dan moisture tester dengan analisis hasil percobaan secara berpasangan (paired comparasion). Membuat tabel histogram dari data kedua metode tersebut.
6.Melakukan pembahasan dan memberikan kesimpulan. 





                                             BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil

4.2 Pembahasan 
         Kadar air merupakan komponen penting yang ada pada benih, kandungan kadar air pada benih berbeda – beda pada tiap jenisnya. Pada prinsipnya pembagian benih berdasarkan kadar air dibedakan menjadi dua yakni benih orthodox dan benih rekalsitran. Benih orthodox merupakan jenis benih yang dapat disimpan dengan optimal pada kadar air yang relatif rendah yakni diantara 12 – 15%, contohnya kedelai, jagung, padi dan lain sebagainya. Sebaliknya benih rekalsitran kadar air optimalnya minimum 20 %, contoh benih rekalsitran misalnya kakao, duren, manggis dan lain sebagainya. 
           Pengukuran kadar air sangat penting untuk dilakukan, penentuan kadar air dpat digunakan sebagai dasar untuk menetapkan waktu panen, karena panenan itu harus di lakukan pada tingkat kadar air biji tertentu pada masing-masing spesies atau varietas. Umumnya tanaman sereallia dan boiji-bijian legume dipanen pada kadar air 20%umumya kadar air biji 30% merupakan batas tertinggi untuk dipanen.Panenan dengan kadar air biji 30 % tidak baik karena sukar untuk pengirikan, disamping ini biji akan rapuh apabila dikeringkan sampai dibawah kadar air 20% tetapi tergantung pada jenis biji,ada yang baik dipanen pada kadar air 10-12%. 
         Berdasarkan praktikum yang pengukuran kadar air yang telah dilakukan, benih yang dilakukan pengukuran kadar air adalah jagung dan kedelai yang notabene merupakan jenis benih orthodox. Meskipun tergolong benih orthodox kedelai tidak bisa disimpan dalam waktu yang lama, kedelai cenderung mengandung protein yang tinggi. Benih yang mengandung protein tinggi cederung mudah mengalami kerusakan mekanis seperti pecah atau cuil. Pengukuran kadar air benih dilakukan dengan dua metode yakni metode langsung dan tidak langsung, pada metode langsung pengukuran kadar air benih dilakukan dengan pengovenan baik dengan suhu tinggi maupun rendah. Sementara pengukuran kadar air tidak langsung dilakukan dengan menggunakan moisture tester dimana kadar air dapat diketahui secara cepat. 
            Sebelum dilakukan pengukuran kadar air jagung dan kedelai dengan metode oven suhu tinggi terlabih dahulu dilakukan pengeringan pendahuluan, tujuan dilakukan pengeringan pendahuluan adalah untuk mengurangi kadar air benih yang terlalu tinggi. Benih dengan kadar air diatas 17% akan menghambat pengukuran kadar air benih, pengukuran kadar air enih harus dilakukan pengulangan karena dengan kadar air awal diatas 17%, pengukuran kadar air benih yang dilakukan tidak valid. Khusus untuk pengukuran kadar air benih dengan metode oven suhu tinggi dilakukan pengeringan pendahuluan. Langkah pengeringan pendahuluan untuk benih kedelai yakni : 
a.Menimbang benih kedelai dan jagung untuk memperoleh berat awal benih, penimbangan benih
   dilakukan dengan menggunakan kertas dan cawan poreslin, kemudian dicatat \ sebagai berat awal
   (S1).
 b.Benih jagung dan kedelai dilakukan pengovenan selama 2-5 jam dengan suhu 700C. 
 c.Setelah selesai pengeringan pendahuluan benih ditimbang sehingga akan diperoleh kadar air awal
    benih (S1). Perlu diperhatikan benih tidak boleh terkena udara luar lebih dari 2 jam sebelum d
    dilakukan pengukuran kadar air selanjutnya. 
d.Menentukan kadar air selanjutnya dengan menggunakan metode oven suhu konstan rendah atau
   tinggi sehingga didapatkan kadar air benih berikutnya (S2). 
          Metode pengukuran kadar air baik secara langsung maupun tidak langsung mempunyai beberapa kelebihan maupun kekurangan, oleh karena itu perlu dilakukan validasi alat uji seperti yang dilakukan dalam prektikum kali ini. Validasi adalah suatu tindakan pembuktian, artinya validasi merupakan suatu pekerjaan dokumentasi. Validasi metode analisis bertujuan untuk memastikan dan mengkonfirmasi bahwa metode analisis tersebut sudah sesuai untuk peruntukannya. Validasi biasanya diperuntukkan untuk metode analisa yang baru dibuat dan dikembangkan. Sedangkan untuk metode yang memang telah tersedia dan baku (misal dari AOAC, ASTM, dan lainnya), namun metode tersebut baru pertama kali akan digunakan di laboratorium tertentu, biasanya tidak perlu dilakukan validasi, namun hanya verifikasi. Tahapan verifikasi mirip dengan validasi hanya saja parameter yang dilakukan tidak selengkap validasi (Sudrajat , dkk., 2008). 
         Kelebihan dari metode pengukuran secara langsung yakni dengan menggunakan oven atau pengusangan yakni kevalidannya lebih tinggi (metode praktis dan tingkat ketelitiannya cukup tinggi). Pada prinsipnya mekanisme penggunaan oven untuk pengukuran kadar air dapat diperoleh dengan mengurangi bobot awal benih sebelum dioven terhadap bobot benih sesudah dioven, nilai itulah yang merupakan kadar air benih. Selain itu keunggulan lainnya adalah metode oven dapat digunakan untuk menguji kadar air semua jenis benih dan pengujian dengan beberapa ulangan dengan jenis benih yang sama hasilnya relatif sama atau seragam. Keseragaman hasil pengujian sangat penting supaya hasil pengujian atau penelitian dapat digunakan untuk menentukan regulasi atau kebijakan tertentu berkaitan pengelolaan benih berdasarkan kadar air yang telah diuji. Beberapa keunggulan tersebut mendorong ISTA (International Seed Testing Association) sebagai induk penelitian benih merekomendasikan penggunaan oven untuk pengujian kadar air benih. 
              Kelemahan dari pengukuran kadar air dengan metode oven yakni membutuhkan beberapa langkah untuk dapat memperoleh kadar air sehingga waktu yang dibutuhka lebih lama. Selain itu jika kadar air benih terlalu tinggi > 17% harus dilakukan pengeringan pendahuluan supaya kadar air dapat diturunkan. Ketentuan 17% tidak berlaku secara umum melainkan berlaku untuk jenis benih tertentu saja, terutama benih orthodox. Hasil pengukuran kadar air benih rawan terjadi penyimpangan jika tidak dilakukan pengeringan dengan waktu yant tepat, misalnya jika terlalu lama proses pengeringan berlangsung kadar air benih akan sangat rendah yang berakibat terjadinya kerusakan pada benih. Sebaliknya jika waktu pengeringan kurang lama kadar air benih terlalu tinggi sehingga membutuhkan pengeringan lebih lanjut. Kekurangan lain dari metode oven yakni banyak membutuhkan peralatan yang dibutuhkan, harus sering menimbang bahan yang diuji, serta pengujiannya membutuhkan waktu yang lebih lama. 
             Sedangkan keunggulan dari metode tidak langsung dengan mengunakan moisture tester yakni hasil dapat diperoleh secara cepat setelah benih dilakukan pengujian. Pengukuran kadar air hanya dilakukan satu tahap saja, tidak perlu mengulang seperti pada pengukuran secara langsung dengan oven. Sedangkan kelemahannnya adalah hasil pengukuran kadar air jenis benih tertentu hasilnya tidak sama (tidak seragam), dan moisture tester tidak bisa digunakan untuk digunakan dalam pengukuran kadar air untuk semua jenis benih. Selain itu pada moisture tester perlu dilakukan kalibrasi setiap kali pengukuran, setiap benih harus dilakukan kalibrasi yang berbeda karena mempunyai kode tertentu yang berbeda. Moisture tester cenderung kurang teliti jika digunakan untuk mengukur kadar air yang terlalu rendah. Perlu diketahui bahwa moisture tester bekerja berdasarkan pengukuran daya hantar listrik (DHL) benih, sehingga kemampuan pengukurannya berbeda – beda pada kadar air benih yang berbeda. 
             Pengukuran kadar air pada jagung dilakukan dengan ditumbuk terlebih dahulu, sedangkan kedelai langsung ditimbang unuk kemudian dilakukan pengukuran kadar air. Penumbukan benih jagung ditujukan untuk mempermudah proses pengukuran kadar air, struktur benih jagung keras mengakibatkan pengukuran kadar air yang ada didalamnya tidak dapat diukur dengan teliti. Jadi tujuan penumbukan benih jagung tersebut adalah supaya kadar air jagung dapat diketahui dengan validitas yang tinggi. Benih jagung yang sudah dalam keadaan tertumbuk dapat kadar airnya dapat dilakukan pengukuran dengan moisture tester maupun pengusangan dengan suhu tinggi maupun rendah. Tujuan dari pengovenan (metode oven) pada jagung adalah untuk mengatehui selisih berat basah dan berat kering jagung supaya dapat diketahui kadar airnya, selisih berat basah dan kering tersebutlah yang dijadikan sebgai kadar air benih jagung. 
           Komposisi kimia benih mempengaruhi kadar air keseimbangan benih dengan lingkungannya. Hal ini tidak lain karena benih bersifat higroskopis, oleh karena itu benih akan menyerap kelembaban dari atau melepaskan kelembaban yang dimilikinya kepada atmosfer di sekelilingnya sampai terjadi suatu keseimbangan antara kadar air benih dengan kelembaban relatif dari atmosfer lingkungan. Jumlah kelembaban dalam benih pada saat keseimbangan itu berkaitan langsung dengan komposisi kimia benih. Kadar air keseimbangan benih berpati tinggi, jagung lebih tinggi daripada yang dicapai oleh benih berminyak tinggi, kedelai. Hal ini masu akal karena minyak atau lemak tidak dapat bercampur dengan air. Karena itu, jika kadar air benih jagung atau kedelai seberat 100 g diukur, maka mengingat perbedaan dalam kandungan minyak antar keduanya akan didapatkan bahwa kira-kira 96% dari bahan jagung akan menyerap air, sedangkan pada kedelainya hanya kira-kira 80%. Jadi, total jumlah kelembaban dalam jagung lebih tinggi daripada yang ada dalam kedelai. (Mugnisyah, W.Q., Setiawan, A., 1990).       
            Terdapatnya kadar air dalam benih ialah karena adanya dua tipe yang mengikatnya yaitu, air yang terikat secara kimiawi dan air yang terikat secara fisik. Yang terikat secara kimiawi, dimana air dalam hal ini merupakan bagian dari komposisi kimia benih. Dapat dikatakan jarang dilakukan atau sama sekali tidak dilakukan baik untuk mengurangi atau menghilangkannya, karena untuk itu berarti harus mengubah struktur benih. Yang terikat secara fisik, dimana air itu memang diserap yang selanjutnya air itu diikat pada permukaan material oleh kekuatan fisik yang kuat, karena adanya tarik-menarik antara molekul material dan air, diikat dalam ruangan yang terdapat sekeliling bagian dalam dari masing-masing biji baik dalam bentuk cairan maupun uap. 
           Kadar air benih adalah menyangkut air yang terikat secara fisik dan dinyatakan pada material basah atau kering. Cara penentuan kadar air benih pada garis besarnya dapat digolongkan atas metode dasar dan metode praktek. Pada metode dasar, benih itu dikeringkan atau dipanaskan pada temperatur tertentu sehingga mencapai berat yang tetap, kehilangan berat sebagai akibat pemanasan atau pengeringan itu selanjutnya ditentukan dan dianggap kadar air benih asal. Pada metode praktek, penentuan kadar air benih berdasarkan atas sifat konduktifitas dan dielektrik benih, yang kedua sifat ini tergantung dari kadar air dan temperatur benih. Pada metode dasar antara lain termasuk metode tungku (oven method). Pada metode praktek antara lain elektrik moisture tester.
            Pada praktikum pengukuran kadar air benih dilakukan pengukuran dengan dua metode yang berbeda yakni metode oven (langsung) dan moisture tester (tidak langsung) pada benih kedelai dan jagung. Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa kadar air pada benih jagung jauh lebih tinggi dibanding dengan kedelai baik dengan menggunakan oven maupun moisture tester. Kadar air pada benih jagung yakni 11,1 % - 12, 23%, sedangkan pada kedelai kadar air tertinggi hanya mencapai 10,7%. 
             Hasil tersebut memperkuat indikasi bahwa penumbukan pada benih jagung ditujukan untuk mempermudah pengukuran kadar air yang terkandung, benih jagung strukturnya lebih keras namun memiliki kadar air yang besar. Indikator lain yang menunjukan bahwa benih jagung memiliki kadar air lebih banyak yakni ketika dikecambahkan pada media substrat kertas merang hasilnya cenderung lebih baik benih jagung dalam segi kecepatan tumbuh dan kecambah. Oleh karena itu pengovenan pada jagung juga dilakukan dengan suhu tinggi yakni 130 - 1300C supaya pengovenan dapat berlangsung dengan cepat karena struktur jagung yang keras dan memiliki kadar air lebih banyak dibanding kedelai. 
           Berdasarkan data yang ditampilkan pada grafik diatas dapat diketahui bahwa pada benih kedelai pengukuran kadar air dengan menggunakan metode oven menunjukan presentase yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan moiture tester. Pengukuran dengan metode oven suhu terendah diperoleh pada ulangan kedua yakni 9,5% dan suhu tertinggi pada ulangan kelima dengan kadar air 10,7%, sedangkan pada moisture tester kadar air tertinggi diperoleh pada ulangan kedua yakni 9,5% dan terendah pada ulangan kedua dan ketiga yakni masing – masing 9,1%. Benih kedelai pengkuran kadar air dengan metode oven dilakukan pada suhu rendah yakni 1030C, hal ini ditujukan supay benih kedelai tidak rusak. Komposisi kimia kedelai yang didominasi oleh lemak dan protein sangat rawan terhadap kerusakan mekanis pada suhu yang tinggi. 
              Berbeda halnya data yang diperoleh pada benih jagung, sensitifitas moisture teseter pada benih jagung lebih baik dibandingkan jika digunakan untuk mengukur kadar air benih kedelai. Hal tersebut ditunjukan hasil pengukuran kadar air yang diperoleh pada benih jagung dengan menggunakan moisture tester sebagian besar lebih tinggi dibandingkan dengan metode oven. Ulangan 1 – 4 kadar air yang diperoleh lebih tinggi dibandingkan dengan moisture tester, kadar air jagung tertinggi diperoleh pada ulangan 3 yakni 12,2%. Metode oven menunjukan hasil paling tinggi pada ulangan kelima yakni 12,35% sekaligus yang tertinggi dibandingkan ulangan lain dengan metode oven dan moiture tester. Jadi secara keseluruhan pengukuran kadar air dengan metode moisture tester lebih sensitif jika digunakan untuk mengukur kadar air benih jagung. 





                                              BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN 

5.1 Kesimpulan 
1. Berdasarkan hasil praktikum sensitifitas moisture tester lebih optimal jika digunakan untuk 
    mengukur kadar air pada benih jagung dibandingkan kedelai. 
2. Kelebihan metode oven yakni ketelitian dan kevalidan lebih tinggi, bisa digunakan untuk 
    pengkukuran kadar air semua jenis benih, sedangkan kelemahannya banyak membutuhkan  
    peralatan yang dibutuhkan, harus sering menimbang bahan yang diuji, serta pengujiannya 
    membutuhkan waktu yang lebih lama. 
 3. Kelebihan pengukuaran kadar air dengan moisture tester (tidak langsung) adalah hasil dapat 
    diperoleh dengan cepat dan tidak membutuhkan waktu yang lama (cukup 1 proses saja). 
    Kelemahan alat ini tidak bisa digunakan untuk mengukur kadar air berbagai jenis benih, hasil 
    tidak seragam, membutuhkan kalibrasi tiap kali digunakan, dan tidak sensitif bila digunakan 
    untuk mengukur kadar air benih yang relatif rendah. 
 4. Kadar air pada jagung lebih tinggi dibandingkan kedelai. 
 5. Validitas pengukuran air secara langsung (oven) lebih tinggi dibandingkan metode tidak langsung 
     (moisture tester). 

5.2 Saran 
           Untuk praktikum kedepan sebaiknya juga dilakukan pengukuran kadar air benih rekalsitran supaya dapat diketahui penggunaan metode yang baik pada jenis tersebut. 





                                                   DAFTAR PUSTAKA 


Atmaka dan Kawiji. 2004. Pengaruh Suhu dan Lama Pengeringan Terhadap Kualitas Tiga Varietas Jagung (Zea mays L.). Surakarta : UNS Press 

Hasanah, M. Dan Rusmin, D. 2006. Teknologi Pengelolaan Benih Beberapa Tanaman Obat Di Indonesia. Bogor : Balai Penelitian Pangan dan Obat. Jurnal Litbang Pertanian. Volume 25 (2) : 68 – 73

Mugnisyah, W.Q., Setiawan, A. 1990. Pengantar Produksi Benih. Jakarta : Rajawali press 

Nasrudin. 2009. Kadar Air Benih. http://teknologibenih.blogspot.com/2009/08/ yang- dimaksud-kadar-air-benih-ialah.html. Diakses 19 November 2011 

Purwanti. 2004. Kajian Suhu Ruang terhadap Kualitas Benih Kedelai Hitam dan Kedelai Kuning. Yogyakarta : UGM. Jurnal Ilmu Pertanian. Volume 11 (1) : 22-31 

Ramelan. 1996. Fisika Pertanian. Surakarta : UNS Press 

Rukmana, dan Yuniarsih. 1996. Kedelai, Budidaya Pasca Panen. Yogyakarta : Kanisius 

Sudarmadji S, Bambang Haryono, Suhardi. 1989. Analisis Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta : Penerbit Liberty 

Sudrajat ., Dede J., Nurhasybi. 2008. Pengembangan Standar Pengujian Kadar Air dan Perkecambahan Benih Beberapa Jenis Tanaman Hutan Untuk Menunjang Program Penanaman Hutan Di Daerah. Peneliti Pada Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor    

1 komentar: